Kemahasiswaan dan Kerja Sama

Konflik Organisasi Mahasiswa: Bagaimana Bersikap Dewasa dan Profesional

Ruang rapat sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara ketukan jari di meja dan gesekan kertas yang terdengar. Di tengah ruangan, beberapa anggota organisasi mahasiswa sedang terlibat dalam diskusi yang mulai memanas. Rapat yang awalnya berjalan tenang berubah menjadi ajang saling mempertahankan pendapat. Nada bicara meninggi, ekspresi tegang, dan suasana perlahan berubah menjadi tidak nyaman.

Di antara mereka, Raka duduk sambil memperhatikan situasi yang semakin tidak terkendali. Ia adalah salah satu pengurus yang paling baru, sehingga ia lebih banyak diam dan mengamati. Namun ia tahu, konflik semacam ini bukan hal baru di organisasi mahasiswa. Setiap kali ada acara besar yang mendekati deadline, gesekan antaranggota hampir selalu muncul. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi justru karena semua ingin yang terbaik.

Saat suasana semakin panas, ketua organisasi akhirnya meminta waktu sejenak. “Kita break dulu lima menit, teman-teman,” katanya dengan suara tegas namun tenang. Semua pun terdiam dan saling menatap. Beberapa mengambil napas panjang, ada yang keluar sebentar, ada yang tetap duduk sambil meredakan emosinya.

Raka memperhatikan bagaimana ketua mereka menyikapi situasi: bukan dengan memarahi, bukan pula dengan memihak. Ia hanya memberi ruang agar semua bisa menenangkan diri. Di momen itu, Raka belajar satu hal penting—konflik tidak akan selesai jika emosi terus saling bertabrakan.

Setelah jeda singkat, rapat kembali dimulai. Kali ini suasana lebih tenang. Ketua meminta setiap orang menjelaskan pendapatnya secara bergiliran, tanpa dipotong, tanpa diserang. Ketika seseorang berbicara terlalu emosional, ia mengingatkan dengan lembut. Ketika dua orang mulai berdebat, ia mengembalikan fokus pada tujuan organisasi, bukan pada ego masing-masing.

Raka menyadari bahwa inilah yang disebut bersikap dewasa dan profesional. Bukan berarti tidak boleh berbeda pendapat—justru perbedaan itulah yang membuat organisasi berkembang. Tetapi bagaimana perbedaan itu disampaikan dan dikelola lah yang menentukan arah organisasi.

Dialog perlahan berubah menjadi diskusi yang lebih santai. Beberapa anggota mulai memahami bahwa masalah yang terjadi bukan karena sikap pribadi, melainkan miskomunikasi. Ada hal yang tidak tersampaikan, ada tugas yang belum jelas, ada tanggapan yang salah diartikan. Dan ketika semuanya dibicarakan dengan kepala dingin, solusi pun muncul lebih mudah.

Raka pun memberanikan diri berbicara, memberi saran kecil yang ia pikirkan sejak tadi. Tak disangka, saran itu diterima dan menjadi bagian dari keputusan rapat. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana sebuah konflik bisa berubah menjadi ruang belajar.

Menjelang akhir rapat, ketua berkata pelan namun penuh makna, “Kita semua di sini belajar. Kalau tidak ada konflik, kita mungkin tidak pernah tahu apa yang perlu diperbaiki.” Kalimat itu membuat ruangan hening sejenak, tetapi kali ini hening yang menenangkan—hening yang menandakan bahwa setiap orang sedang merenung.

Di perjalanan pulang, Raka tersenyum kecil. Ia memahami bahwa organisasi bukan hanya tempat menjalankan program, tetapi tempat membentuk karakter. Konflik tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola. Dan dari setiap konflik, seseorang bisa belajar cara memimpin, cara mendengarkan, dan cara menghargai orang lain.

Pada akhirnya, kedewasaan dan profesionalitas bukan hanya terlihat ketika keadaan baik-baik saja, tetapi ketika kita mampu bersikap tenang di tengah perbedaan. Dan itulah yang membentuk organisasi mahasiswa menjadi ruang tumbuh yang sesungguhnya.

#Jalur3UINPalopo

Tinggalkan komentar

Translate »