Kemahasiswaan dan Kerja Sama

Jejak Sunyi Seorang Pramubakti: Pengabdian yang Tak Pernah Pergi

Di balik gedung-gedung kampus yang selalu tampak bersih, rapi, dan nyaman, ada sosok-sosok yang bekerja dalam sunyi. Mereka datang paling pagi dan pulang paling akhir, tanpa sorotan kamera, tanpa tepuk tangan, tanpa gelar kehormatan. Salah satunya adalah seorang pramubakti bagian cleaning service, sosok sederhana yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kampus yang ia cintai.

Almarhum bukanlah dosen, bukan pula pejabat kampus. Namun setiap sudut lantai yang ia bersihkan, setiap halaman yang ia sapu, dan setiap ruang yang ia rawat menjadi saksi betapa besar rasa tanggung jawabnya. Dalam kesederhanaan, ia bekerja dengan sepenuh hati, memastikan civitas akademika dapat belajar, mengajar, dan beraktivitas dengan nyaman setiap hari.

Banyak dari kita mungkin hanya mengenalnya lewat senyum singkat di pagi hari, sapaan ramah di lorong kampus, atau sekadar anggukan kepala saat berpapasan. Namun di balik itu, ia menyimpan ketulusan yang jarang disadari. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta lebih, hanya menjalankan tugasnya dengan penuh keikhlasan—seolah kebersihan kampus adalah bagian dari amanah hidupnya.

Kini, ia telah berpulang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh warga kampus yang pernah merasakan hasil dari pengabdiannya. Lantainya masih bersih, halamannya masih tertata, namun sosok yang biasa merawat semuanya telah tiada. Kampus terasa kehilangan, karena satu pengabdian tulus telah selesai ditunaikan.

Kisah hidup almarhum mengajarkan kita bahwa kemuliaan tidak selalu diukur dari jabatan, dan kehormatan tidak selalu lahir dari sorotan. Ada kemuliaan dalam kerja keras, ada kehormatan dalam kejujuran, dan ada pahala besar dalam pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas. Ia membuktikan bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun menurut manusia, memiliki nilai besar di hadapan Tuhan jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Semoga dedikasi almarhum menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai setiap peran di sekitar kita. Untuk tidak meremehkan pekerjaan orang lain, untuk lebih sering mengucapkan terima kasih, dan untuk bekerja dengan hati, apa pun posisi dan tanggung jawab yang kita emban.

Selamat jalan, pejuang kebersihan kampus. Jejakmu mungkin tak tertulis di papan nama, tetapi pengabdianmu terukir dalam setiap langkah kami di kampus ini. Doa kami mengiringimu, semoga segala lelahmu menjadi amal, dan segala baktimu dibalas dengan tempat terbaik di sisi-Nya. 🤍

#Jalur3UINPalopo

Tinggalkan komentar

Translate »