
Bulan Ramadhan selalu identik dengan kebahagiaan, kebersamaan, dan lantunan doa yang menghangatkan hati. Namun, di tengah keberkahan itu, terkadang Ramadhan juga menghadirkan ujian yang begitu dalam bagi sebuah komunitas. Kepergian seseorang yang begitu berarti sering kali meninggalkan kesedihan yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Begitulah yang dirasakan oleh masyarakat ketika sosok yang selama ini menjadi panutan dan penjaga nilai-nilai agama berpulang ke rahmatullah di bulan suci ini.
Beliau bukan sekadar seorang tokoh masyarakat. Bagi banyak orang, beliau adalah tempat bertanya, tempat mengadu, sekaligus sumber keteladanan dalam menjalani kehidupan. Suaranya yang lembut ketika menyampaikan nasihat, langkahnya yang ringan saat menghadiri kegiatan keagamaan, serta kehadirannya di tengah masyarakat telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masjid terasa hidup setiap kali beliau memimpin doa, dan masyarakat merasa lebih tenang setiap kali mendengar petuahnya.
Namun, Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Ketika kabar duka itu datang, seolah waktu berhenti sejenak. Tangis pecah di berbagai sudut kampung, dari rumah-rumah sederhana hingga halaman masjid yang selama ini menjadi tempat beliau mengabdi. Banyak yang tidak mampu menahan air mata, karena yang pergi bukan hanya seorang tokoh, tetapi juga sosok ayah, guru, dan sahabat bagi masyarakat.
Di malam-malam Ramadhan yang biasanya dipenuhi lantunan doa dan shalat tarawih, kini terasa lebih sunyi. Banyak yang menatap mimbar masjid dengan perasaan kosong, seakan masih berharap sosok itu akan kembali berdiri di sana, menyampaikan nasihat dengan penuh keteduhan. Namun kenyataan mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki batas waktunya di dunia.
Kepergian beliau menyadarkan masyarakat bahwa peran seorang manusia bisa begitu besar bagi kehidupan orang lain. Ketulusan, pengabdian, dan nilai-nilai yang ditanamkan selama hidupnya menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada apa pun. Dari sosok seperti beliau, masyarakat belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita berada di dunia, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain.
Bagi mahasiswa dan civitas akademik, kisah ini menjadi pengingat yang mendalam. Ilmu yang dipelajari di ruang-ruang kelas sejatinya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk membawa manfaat bagi masyarakat. Sosok yang telah berpulang itu mungkin tidak menulis banyak buku atau berbicara di panggung besar, tetapi pengaruhnya terasa nyata dalam kehidupan banyak orang.
Ramadhan pun mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari perjalanan hidup. Namun di balik kesedihan itu, ada pelajaran tentang keikhlasan dan tanggung jawab untuk melanjutkan kebaikan yang telah ditinggalkan. Generasi muda, termasuk para mahasiswa, memiliki peran untuk meneruskan nilai-nilai keteladanan tersebut—menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan spiritual.
Kini, masyarakat mungkin merasakan kekosongan yang begitu dalam. Namun jejak kebaikan yang telah beliau tanamkan akan tetap hidup dalam ingatan dan tindakan banyak orang. Setiap doa yang dipanjatkan, setiap langkah menuju kebaikan, dan setiap usaha untuk membantu sesama akan menjadi bukti bahwa pengabdian beliau tidak pernah benar-benar berakhir.
Di bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini, masyarakat belajar bahwa kepergian seseorang bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari kehilangan itulah lahir kesadaran untuk menjaga nilai-nilai kebaikan agar tetap hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya, manusia yang benar-benar hidup bukanlah mereka yang sekadar pernah ada, tetapi mereka yang meninggalkan jejak kebaikan yang terus dirasakan bahkan setelah mereka tiada.
#Jalur3UINPalopo